Absensi Jasmine Official
Setiap pagi, pukul 06.45, Bu Ratna, guru wali kelas XII IPA 1, selalu memegang buku absensi biru tua. Buku itu sudah lusuh di sudut-sudutnya, tetapi masih setia mencatat kehadiran tiga puluh dua siswa. Namun, selama sebulan terakhir, ada satu nama yang selalu menyisakan tanda tanya: .
Hari Selasa, Jasmine hadir. Rambutnya diikat sedikit acak, matanya sembab. Ia tersenyum tipis saat Bu Ratna menyebut namanya. “Hadir, Bu,” katanya lirih. absensi jasmine
Dan Jasmine? Ia lulus dengan nilai yang biasa saja, tapi ia tumbuh menjadi wanita yang kelak, di tempat kerjanya, akan selalu memperhatikan rekan yang paling sunyi, dan diam-diam menuliskan titik kecil di hatinya untuk mereka. Absensi bukan sekadar catatan hadir atau tidak. Kadang, di balik sebuah nama, ada kisah yang butuh dilihat, bukan sekadar dicoret. Setiap pagi, pukul 06
“Ibu tahu kamu sedang berat,” kata Bu Ratna kemudian, suaranya lembut tetapi tegas. “Tapi kehadiranmu di sini bukan hanya untuk absensi. Kamu punya teman-teman, punya ibu guru yang peduli. Kalau capek, jangan ragu bilang.” Hari Selasa, Jasmine hadir
Berikut adalah sebuah cerita pendek dengan tema : Absensi Jasmine
“Ibu, Jasmine tadi sempat chat,” kata Sarah, teman sebangkunya. “Katanya ayahnya masuk UGD lagi.”
Jasmine bukan siswa yang malas. Sejak kelas X, ia dikenal sebagai anak yang paling cepat datang, bahkan sebelum petugas kebersihan selesai menyapu. Tapi sejak ayahnya dirawat di rumah sakit karena stroke, semuanya berubah. Jasmine mulai sering terlambat. Kadang tidak masuk sama sekali.